MERAWAT PERSAUDARAAN IGNATIAN

IGNATIAN BROTHERHOOD:
MERAWAT PERSAUDARAAN IGNATIAN

 

Jakarta-Kolese Kanisius,  Kegiatan Masa Orientasi Siswa di SMP Kolese Kanisius dilaksanakan dalam 2 rangkaian yang teintegrasi satu sama lain selama 1 minggu, 13-20 Juli 2019.  Pada tiga hari pertama, para siswa mengikuti Program Pengenalan Lingkungan Sekolah (P2 LS) sesuai dengan program Dinas Pendidikan. Program yang memperkenalkan siswa pada visi- misi dan identitas sekolah lainnya beserta perangkat aturan-aturan main yang harus diikuti baik berkaitan dengan akademik maupun non-akademik yang berlaku di Lingkungan sekolah SMP Kolese Kanisius. Rangkaian kedua adalah Ignatian Brotherhood, program untuk memperkenalkan tradisi khas ke Kanisian-an, nilai-nilai pengikat persaudaraan antar Kanisian beserta spiritualitas Ignatian yang menaunginya.

Mengawali kegiatan masa Orientasi siswa tahun 2019, para siswa baru hadir di sekolah lebih awal daripada siswa kakak kelas mereka, yaitu pada tanggal 13 Juli 2019. Pada moment hari pertama ini, para siswa di minta hadir bersama orangtua mereka. Kehadiran orangtua menandai sebuah simbol kepercayaan pihak keluarga untuk menyerahkan pendidikan putra-putra mereka kepada sekolah. Sebuah makna yang sangat penting, terutama bagi pihak sekolah kepercayaan orangtua menjadi sebuah tanggungjawab untuk menjadi orang tua ‘lain’ atau mengambil peran orangtua dalam mendidik putra-putra Kanisius. Mengajar bukan pekerjaan satu-satunya para guru, memastikan bahwa siswa sungguh berkembang dengan sikap dan akhlak yang baik menjadi tugas pekerjaan yang justru lebih dominan.

CC is our ‘ home’

Di atas tribun lapangan volly terpampang besar tulisan-a home where leaders of service are made-sebuah jargon yang terkandung gagasan, mimpi, spirit dan harapan bagi seluruh civitas akademika kolese Kanisius, bahwa lembaga pendidikan ini bukan hanya sekedar gedung tetapi lebih daripada itu adalah sebuah habitat, komunitas dan persaudaraan. Memperkenalkan siswa baru dengan energi seperti ini bukanlah sesuatu yang instant, butuh proses pemaknaan dan perasaan nyaman, gembira dan penuh pengharapan. Kolese Kanisius menjadi simbol persaudaraan bagi siapa saja yang pernah merasakan suka-duka di dalamnya, menjadi tempat bertemu semua kanisian lintas generasi, dan menjadi magnet bagi semua Kanisian yang merasakan ikatan persaudaraan secara riil. Rumah ini menjadi sumber energi untuk mendapatkan peneguhan tentang sebuah misi yang harus setiap Kanisian jalankan, yaitu misi untuk menjadi pelayan bagi banyak orang. Semua orang yang berani belajar di sini adalah siswa yang siap untuk menjadi pribadi dengan karakter seorang leader. Proses inisiasi -Ignatian Brotherhood- menjalankan misi ini, menerima siswa baru menjadi bagian dalam sebuah keluarga dan siap beradaptasi dengan nilai-nilai yang bisa membentuknya menjadi seorang leader of service.

Membangun rasa ‘brotherhood dan ‘Sense of Belonging

Membangun rasa persaudaraan, solidaritas dan kesadaran bahwa Kolese Kanisius adalah rumah bersama, membutuhkan sense of belonging yang perlu ditumbuhkan sejak awal. Pada hari kedua pelaksanaan Ignatian brotherhood, para siswa baru diajak merasakan dinamika sekolah secara lebih mendalam dengan menginap di sekolah. Selama menginap para siswa diajak terlibat tentang bagaimana ikut serta merawat ‘rumah’ ini. Kerja bakti membersihkan fasilitas sekolah, makan, mandi dan tidur mereka rasakan secara riil dengan segala keadaanya. Hal ini dilakukan tidak hanya bertujuan untuk membangun sense of belonging-menerima CC sebagai ’rumah’ mereka saja, tetapi juga membangun relasi antar mereka secara lebih mendalam.

Dinamika Emausan dan Cura personalis

Di dalam kegiatan Ignatian Brotherhood para siswa baru juga menjalankan kegiatan ‘Emausan’. Kegiatan ini terinspirasi dari kisah di dalam kitab suci, yang menceritakan tentang  dua murid Yesus yang mengadakan perjalanan ke Emaus kurang lebih sepekan setelah Yesus wafat. Selama dalam perjalanan mereka berbincang-bincang tentang kematian dan kebangkitan Yesus, tanpa mereka sadar Yesus hadir dan menampakkan diri sebagai teman dalam perjalanan mereka dan memberikan pandangan dan pemahaman baru yang membuat para murid merasa berkobar-kobar dan termotivasi. Kata kunci dari inspirasi kitab suci ini adalah berbincang-bincang dan berkobar-kobar. Para murid merasakan sebuah perbincangan yang sangat bermakna yang membuat mereka termotivasi dan berkobar-kobar. 

Dalam kegiatan Emausan ini, para siswa baru diajak merasakan hal yang dialami para murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus, mengalami perbincangan yang meneguhkan bersama dengan kakak-kakak kelas mereka dan membuat mereka semakin termotivasi, bersemangat dan at home untuk belajar di Kanisius ini.

Melalui perbincangan personal dengan kakak kelas diharapkan para siswa baru terdorong untuk terbuka dan menemukan sosok ‘brother’ yang bisa mendampingi mereka selama belajar di Kanisius. Sentuhan personal yang dirasakan dari proses percakapan-percakapan seperti ini menjadi tradisi dan prinsip pendampingan di sekolah-sekolah Jesuit, yang lebih dikenal dengan sebutan Cura Personalis. Proses Cura personalis hanya mungkin terjadi 

bila ada keterbukaan, kenyamanan dan ikatan emosional antar individu yang berbagi. Emausan menjadi titik awal untuk memulai perbincangan-perbincangan dengan lebih banyak dengan setiap orang yang mereka jumpai selama pendidikan di Kanisius. Siswa-siswa yang sukses dan berkembang (open to growth) di Kanisius adalah siswa yang berhasil beradaptasi dengan atmosfir keterbukaan seperti ini dan bisa memaknai setiap perjumpaan dengan orang lain sebagai sarana belajar yang mengembangkan mereka.

Menjadi Kanisian

Para siswa baru mulai diperkenalkan dengan status baru yang mengikat mereka yaitu KANISIAN. Sebutan yang diidentikan dengan siswa-siswa yang belajar di Kanisius. Tentunya melalui proses Ignatian Brot

herhood ini, siswa-siswa tidak hanya mendapat status baru tetapi juga menjalani sebuah spiritualitas hidup yang baru sebagai Kanisian. Spiritualitas yang melihat proses belajar sebagai proses perjalanan untuk senantiasa berkembang dari hari ke hari (magis), spiritualitas yang melihat kompetisi sebagai perang melawan/menaklukan diri sendiri bukan mengalahkan orang lain. Spiritualitas yang membangun kemandirian, bahwa ini saatnya mereka bertanggung jawab atas hidup mereka dan memiliki kewajiban untuk menghargai setiap orang -setiap makhluk, karena mereka menjadi bagian yang mengembangkan mereka. Spiritualitas Kanisian melihat kekayaan hidup yang sesungguhnya adalah kekayaan yang berasal dari eksplorasi ke kedalaman diri melalui refleksi. Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah self-leadership, keberhasilan melayani orang lain bisa terjadi apabila mereka sudah selesai dengan kebutuhan diri mereka.Spiritualitas Kanisian menjadikan siswa Kanisius memiliki pandangan terbuka dan toleran terhadap semua perbedaan. Maka sejatinya nanti ikatan Ignatian Brotherhood akan menghubungkan mereka dengan seluruh orang yang memiliki spiritualitas yang sama di seluruh dunia yang mengalami pendidikan Jesuit. Dan pengalaman akan spiritualitas ini akan merawat dan melestarikan persaudaraan dari orang-orang yang menjalankan tradisi, ajaran dan spiritualitas ignatian sejak ratusan tahun yang lalu. 

Tentunya semua buah-buah pengalaman ini tidak serta merta terjadi secara instan selama tiga hari, mereka hanya mendapat bekal untuk perjalanan pendidikan mereka. Keberhasilan beradaptasi, ketaatan dalam menjalankan tradisi Ignatian dan daya juang yang tinggi untuk maju akan menjadi modal yang besar untuk mewujudkan diri menjadi Kanisian yang sungguh-sungguh sejati dengan 4 C (Competence, compassion, conscience dan commitment)(Ciplan-19)

 

==========================Ad Maiorem Dei Gloriam=============================

Leave a Comment

--SMP Kanisius Jakarta--

© 2019. All rights reserved.