Images-loading

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER - MENJADI KANISIAN – AKU BELAJAR MAKA AKU ADA

  • BLOG >

  • PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER - MENJADI KANISIAN – AKU BELAJAR MAKA AKU ADA

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER - MENJADI KANISIAN – AKU BELAJAR MAKA AKU ADA

Oleh: P. Andri Astanto, SJ

Kanisian. Sipakah Kanisian? Kanisian adalah para siswa-siswa yang belajar di SMP Kolese Kanisius Jakarta. Apa bedanya Kanisian dengan siswa-siswa SMP dari sekolah lainnya ? Kanisian adalah siswa Kanisius yang mempunyai pribadi yang jujur, mandiri, berdisiplin, bertanggungjawab, singkatnya adalah pribadi yang sanggup diandalkan dalam banyak aspek. Aspek yang dimaksud dalam hal ini adalah aspek kecerdasan kognitif dan kecerdasan emosional. Itulah syarat awal menjadi seorang pemimpin ala Kanisian. Menjadi Kanisian yang hanya pandai secara akademik tidaklah membanggakan, sebaliknya pribadi Kanisian yang cakap secara emosional dan mengasah nuraninya adalah pribadi Kanisian sejati dan itulah yang ingin dituju.  Mau tidak mau, kita semua hidup dalam era globalisasi yang semakin hari semakin dapat menyempitkan waktu kita untuk berinteraksi antar sesama. Manusia hanya dituntut untuk bersaing dan bersaing. Bahkan menurut seorang filsuf modern abad ke-17 yakni Thomas Hobbes mengatakan bahwa “Man is a wolf to man.”. Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Artinya manusia saling berusaha untuk bersaing sedemikian rupa supaya menjadi pemenang. Bersaing adalah sesuatu yang sehat akan tetapi kalau manusia hanya berorientasi pada kepuasan diri dan kebutuhan diri semata itu yang tidak pernah diajarkan di Kanisius. Sebagai Kanisian dididik tidak hanya bersaing untuk pandai secara akademik akan tetapi bersaing dalam menghidupi 3 C (Competence, Conscience, Compassion). Seorang Kanisian sejati diharapkan sungguh menerapkan 3 C tersebut untuk berlomba membentuk diri sebagai seorang calon pempimpin yang berhati nurani dengan semangat Ignatian. Magis dalam belajar, magis dalam berbuat kebaikan terhadap sesama. Oleh karena itu pendidikan nilai sungguh menjadi penekanan yang penting dalam pedagogi Ignatian dalam proses belajar mengajar di Kolese Kanisius.

Kita menyadari bahwa dewasa ini beberapa lembaga-lembaga pendidikan khususnya yang ada di Indonesia berlomba-lomba dalam pencapaian kuantitatif seperti jumlah siswa, nilai ujian akhir nasional, akreditasi, dan lain sebagainya. Ketika lembaga-lembaga pendidikan yang sedang bersemangat dan hanya fokus untuk sampai pada tujuan tersebut, anak didikpun sepertinya malah dilupakan dan diabaikan sebagai manusia yang harus dipahami dan difasilitasi untuk mengembangkan karakter kemanusiaannya. Ada kesan bahwa pendidikan dewasa ini banyak dititikberatkan pada kegiatan “mengajar” dan kurang pada “kesaksian” tentang nilai-nilai hidup. Hal yang melatarbelakangi mungkin karena orang mudah memutlakkan pengetahuan sebagai nilai “terpenting” kearah kemajuan. Pendidikan dianggap beres, kalau dan asal anak sudah hafal apa yang diajarkan. Gejala seperti ini menimbulkan anggapan salah seolah-olah apabila orang sudah tahu ini dan itu, lalu dengan sendirinya ia menjadi manusia dewasa dan lebih baik. Dengan demikian diberi kesan keliru, seakan-akan nilai manusia diletakkan pada lebih banyak tahu atau kurang tahunya, dan ukuran baik-buruknya orang adalah pandai-bodohnya. Kecuali itu, model pendidikan seperti itu menyebabkan peserta didik hanya dilatih untuk menerima hasil jadi dan kurang menghargai suatu proses.[1] Akibatnya adalah anak didik hanya semata-mata mengejar apa yang harus dicapai secara akademik dan kurang memperhatikan sisi kecerdasan emosionalnya yang mencakup tentang penanaman dan pelaksanaan akan nilai-nilai yang membentuk karakter.

Oleh karena itu proses pendidikan yang yang diajarkan dan diberikan seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian pada hasil ilmu pengetahuan atau ketrampilan bidang akademis saja misalnya ilmu bahasa, ilmu pengetahuan alam, pengetahuan sosial, akan tetapi hendaknya pengetahuan atau ketrampilan non-akademisi seperti pendidikan nilai perlu diberikan dan dilatihkan pada para siswa didik yang ada di sekolah-sekolah. Patut disyukuri bahwa hal ini sudah diakomodasi dalam kurikulum 2013 yang menyertakan dan menekankan penanaman pendidikan nilai dalam setiap mata pelajaran. Hal ini memang dirasa sangat perlu untuk membentuk anak didik supaya tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkarakter dan berdedikasi.

            Karena itulah, pendidikan di Kolese Kanisius juga hendak menumbuhkan, mengembangkan dan mendewasakan tata keteraturan dalam diri para Kanisian. Pendidikan yang ada di Kanisius berarti juga proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri Kanisian seperti kemampuan akademis, relasional, bakat-bakat, talenta, kemampuan fisik dan juga daya-daya seni dalam diri Kanisian.

Menurut Freire, pendidikan harus dijadikan arena yang akan mengantar orang untuk menemukan dirinya untuk kemudian secara kritis menghadapi realitas di sekitarnya dan secara kreatif mengubah dunianya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya pendidikan adalah karya pembentukan manusia-manusia baru yang akan membuka dunia baru.[2] Mengubah dunia dalam hal ini misalnya merubah kekerasan menjadi budaya cinta kasih, tindakan korupsi menjadi budaya kejujuran dan masih banyak lagi tindakan yang mengarah pada perubahan yang lebih baik dalam tatanan masyarakat.

Sedangkan beberapa elemen pokok yang ada dalam dunia pendidikan menurut Leo Tolstoy selain adanya pemberian bahan pengajaran dan tujuan dari proses pendidikan, elemen pokok lainnya adalah  peran dari guru dan murid. Guru merupakan agen utama yang bertujuan untuk mengarahkan, memikul tanggung jawab atas proses pendidikan. Proses pendidikan di sini tidak hanya mencakup memberikan bahan pengajaran kepada para murid akan tetapi juga meliputi proses pembentukan karakter dari para murid yang diasuhnya. Kemudian unsur utama lainnya adalah murid. Murid dalam mengenyam dunia pendidikan diharapkan akan terjadi perubahan perilaku yang makin baik dari hari ke hari. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah sikap-sikapnya perlu dipupuk agar selalu memperhatikan adanya tatanan nilai dalam bermasyarakat.[3] Semua ini tidak lepas dari pentingnya pembinaan dalam hal pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan khususnya di SMP Kolese Kanisius Jakarta.

Menurut John Locke, seorang filsuf abad ke-17 dari Inggris, mengajukan pendidikan sebagai pendidikan bagi pengembangan karakter. Sedangkan filsuf Amerika, John Dewey melihat pendidikan moral sebagai pusat dari misi sekolah.[4] Sebagaimana diketahui, manusia terdiri dari tiga unsur pembangun yaitu hatinya (bagaimana ia merasa), pikirannya (bagaimana ia berpikir) dan fisiknya (bagaimana ia bersikap). Oleh karena itu, langkah-langkah untuk membentuk atau mengubah karakter juga harus dilakukan dengan menyentuh dan melibatkan unsur-unsur tersebut.[5] Berkaitan dengan perubahan karakter tersebut semua tergantung pada pribadi yang bersangkutan. Karena hal itu berkaitan erat dengan kemauan dari tanggapan pribadi yang bersangkutan sebagai gerak dinamis dalam menyikapi segala hal yang ada.

Tujuan pendidikan karakter semestinya diletakkan dalam kerangka gerak dinamis dialektis, berupa tanggapan individu atas impuls natural (fisik dan psikis), sosial, kultural yang melingkupinya, untuk dapat menempa diri menjadi sempurna sehingga potensi-potensi yang ada di dalam dirinya berkembang secara penuh yang membuatnya semakin menjadi manusiawi. Semakin menjadi manusiawi berarti ia juga semakin menjadi makhluk yang mampu berelasi secara sehat dengan lingkungan di luar dirinya tanpa kehilangan otonomi dan kebebasannya sehingga ia menjadi manusia yang bertanggungjawab. Untuk ini ia perlu memahami dan menghayati nilai-nilai yang relevan bagi pertumbuhan dan penghargaan harkat dan martabat manusia yang tercermin dalam usaha dirinya untuk menjadi sempurna melalui kehadiran orang lain.[6]

Oleh karena itu sudah jelas bahwa pendidikan karakter itu sangat penting untuk diterapkan secara komprehensif dan integral dalam rangka membentuk individu yang berkarakter dengan melibatkan berbagai komponen mulai dari individu itu sendiri, pendidik, orangtua, staf sekolah, masyarakat, dan lingkungan yang lebih luas. Tujuannya adalah untuk membentuk pedoman perilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menyediakan ruang bagi figur keteladanan bagi anak didik dan menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan dan keamanan yang membantu suasana pengembangan diri satu sama lain dalam keseluruhan dimensinya, yakni dimensi teknis, intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis, dan religius.[7]

Sedangkan yang menjadi prinsip dasar dalam pendidikan karakter di sekolah menurut Thomas Lickona, dalam bukunya yang berjudul "Eleven Principles Of Effective Character Education"[8]secara ringkas prinsip-prinsip yang dapat menentukan kesuksesan pendidikan karakter sebagai berikut ;

  1. Pendidikan karakter harus mengandung nilai-nilai yang dapat membentuk "good character".
  2. Karakter harus didefinisikan secara menyeluruh yang termasuk aspek"thinking, feeling and action".
  3. Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan komprehensif dan terfokus dari aspek guru sebagai "role model", disiplin sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, manajemen kelas dan sekolah, integrasi materi karakter dalam seluruh aspek kehidupan kelas, kerjasama orang tua, masyarakat dan sebagainya.
  4. Sekolah harus menjadi model "masyarakat yang damai dan harmonis". Sekolah merupakan miniatur dari bagaimana seharusnya kehidupan dimasyarakat, di mana masing-masing individu dapat saling menghormati, bertanggung jawab, saling peduli dan adil.
  5. Untuk mengembangkan karakter, para murid memerlukan kesempatan untuk mempraktekkannya; bagaimana berprilaku moral.  Dalam hal ini Kanisius mendidik para Kanisian untuk peka terhadap keperluan orang lain. Maka dalam hal ini ada kegiatan misalnya Pramuka, Compassion Week, Live-In.
  6. Pendidikan karakter yang efektif harus mengikutsertakan materikurikulum yang berarti bagi kehidupan anak atau berbasis kompetensi (life skill) sehingga anak merasa mampu menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan.
  7. Pendidikan karakter harus membangkitkan motivasi internal dari diri anak.  Dalam hal ini misalnya Kanisian diminta untuk membuat refleksi penyadaran diri atas pelanggaran yang dilakukan di sekolah misalnya anak ketinggalan tempat makan, minum, tidak membawa tugas dan masih banyak lagi. Seluruh staf sekolah harus terlibat dalam pendidikan karakter.
  8. Pendidikan karakter di sekolah memerlukan kepemimpinan moral dari berbagai pihak; pimpinan, staf dan para guru.
  9. Sekolah harus bekerja sama dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya.
  10. Harus ada evaluasi berkala mengenai keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Khusus untuk para guru dan staf sebagai model pendekatan Cura Personalis adalah sangat krusial terhadap keberhasilan pendidikan karakter di Kanisius.

Melihat ke-11 prinsip dasar dalam pendidikan karakter tersebut, maka peran sang pendidik dalam pendidikan nilai adalah sangat penting. Karena sang pendidik harus bisamenjadi teman, sahabat, pengajar, rekan kerja, pendamping, orang tua, dan semua kemampuan individu yang memungkinkan proses belajar di institusi pendidikan berjalan dengan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Untuk sampai pada upaya keberhasilan penanaman pendidikan nilai terhadap para siswa, maka Kolese Kanisius selalu menekankan adanya pendekatan dengan metode pedagogi Ignatian dalam proses belajar mengajar.

 

Pedagogi Ignatian

Pedagogi Ignasian[9] diharapkan mampu membantu guru dan siswa untuk memusatkan perhatian pada tugas mereka secara akademis sehat dan sekaligus membentuk pribadi menjadi manusia untuk sesama.[10]  Paradigma pedagogi dalam hal ini meliputi model pendidikan dan proses belajar mengajar. Hal ini berarti menyaturagakan pendidikan nilai dan pembentukan pribadi ke dalam kurikulum yang ada dan bukan menambah pelajaran atau mata pelajaran baru.[11]

Pedagogi adalah cara pengajar mendampingi para siswa dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pedagogi merupakan cara mendidik dari para pendidik kepada siswa. Pedagogi meliputi pandangan hidup dan visi mengenai idealnya pribadi terpelajar.[12] Salah satu tujuan pendidikan Jesuit yakni membentuk pria dan wanita untuk orang lain (men and women for others).Tujuan seperti itu menuntut pembentukan pribadi manusia untuk unggul tidak hanya pada bidang intelektual semata akan tetapi juga pada pencapaian nilai-nilai kehidupan yang lain.Hal ini juga merupakan suatu persatuan yang diusahakan dan dicapai lewat hubungan penuh cinta dengan sesama, keadilan dan belas kasih. Cinta kasih inilah yang memberi kesaksian akan iman dan yang menyatakan diri dengan perbuatan demi kebersamaan, keadilan, cinta dan damai di seluruh dunia.[13]

            Tujuan pendidikan seperti itulah yang mendesak dipraktekkandidalam lingkup seluruh dunia pendidikan, termasuk dalam hal ini pendidikan yang ada di pesantren. Oleh karena itu dengan berlandaskan pada pedagogi ignasian ini diharapkan akan semakin terwujud cita-cita luhur dari pendidikan yaitu mencerdaskan dan mendidik anak bangsa menjadi unggul baik dalam bidang akademik juga dalam emosional.

            Pembaharuan seperti itu menuntut adanya orang-orang yang terbentuk dalam iman dan keadilan, yang makin hari makin mengetahui bagaimana mereka dapat menjadi pengajar, pengantar, teladan yang efektif keadilan, cinta, dan damai Allah, baik dalam keadaan sehari hari maupun dalam keadaan luar biasa menantang.[14]

 

Membentuk Siswa Menjadi Pribadi Ignatian

 

Kolese Kanisius sebagai salah satu dari sekian banyak Kolese milik Jesuit selalu melihat adanya aspek Spiritualitas Ignatian dalam lingkungan pendidikan. Beberapa ciri –ciri yang sering dikaitkan dengan pendidikan yang dikelola oleh Jesuit adalah bahwa Kolese Kanisius merupakan sarana kerasulan;meliputi dimensi religious yang meresapi seluruh pendidikan; mengakui kebaikan dunia;berusaha menjalin dialog antar iman dan kebudayaan; membantu formasi utuh setiap pribadi dalam komunitas manusia;mementingkan asuhan dan perhatian bagi setiap orang;menganjurkan kebutuhan untuk tumbuh sepanjang hidupnya; menekankan kegiatan siswa sendiri;menganjurkan pengetahuan kasih dan penerimaan diri yang realistis tentang dunia kita;berorentasi kepada nilai-nilai yang benar;memperhatikan Kristus sebagai teladan hidup Kristiani;memberikan pelayanan pastoral yang memadai; merayakan iman dalam doa pribadi dan bersama dalam ibadat dan pelayanan;mempersiapkan bagi keterlibatan hidup yang aktif;mempersiapkan bagi keterlibatan hidup yang aktif; melayani iman yang berbuat keadilan; mau membentuk “pria dan wanita demi sesama;memberikan perhatian khusus kepada kaum miskin; sarana apostolik dan  pelayanan;menekankan kerjasama;dan masih banyak lagi.

Menurut Konvelbach (mantan Jenderal Jesuit), Pendidikan Jesuit diarahkan untuk membentuk perkembangan, kerohanian, penuh kasih dan terlibat untuk menegaskan keadilan dalam pelayanan dengan penuh kerelaan bagi umat Allah.  Pendidikan Jesuit mengobarkan kaum muda untuk mengenal Kebaikan Allah dalam dirinya, dalam diri sesama dan dalam masyarakat. Tujuan pendidikan Jesuit tidak hanya berhenti pada penyampaian ilmu dan informasi akan tetapi aspek kecerdasan emosional juga menjadi tekanan yang utama.  Setiap siswa Kanisius pasti sering mendengar istilah “Magis” dan “Man for others”. Kata “Magis” dalam hal ini ada hubungannya dengan semangat lebih, namun lebih berarti sebagai suatu hasrat dan kehendak untuk berkualitas. Pendidikan Jesuit selalu menekankan kepada hasrat dan kehendak berkualitas yang selalu mengarah pada 3 C (Competence, Conscience dan Compassion). Untuk sampai pada kualitas yang mengandung unsur 3 C itu kembali pada masing-masing siswa yang bersangkutan, bagaimana mereka mengolah talenta dan komitmen dalam mengelola diri sebagai Kanisian yang tumbuh dengan penuh nilai-nilai Ignatian. Bila kita tidak mempunyai hasrat dan kehendak yang kuat maka hal itu hanya akan menjadi slogan dan mimpi belaka. Menjadi pribadi yang magis berarti menerapkan hasrat dan kehendak yang berkualitas itu dalam setiap tingkah laku perbuatan. 

Kolese Kanisius didasari oleh semangat Ignatian yang senantiasa ingin menumbuhkembangkan sikap batin Kanisian supaya mampu melihat kehadiran dan kebaikan Allah dalam diri sendiri, sesamadan lingkungan hidupnya. Hal ini dimulai dengan melihat terlebih dahulu potensi dalam diri yang perlu dikembangkan menjadi manusia yang utuh. Potensi itu pula yang dianugerahkan Allah kepada sesama dan lingkungan. 

Dalam model pendampingan yang ada di Kolese Kanisius juga diterapkan adanya model pendekatan yang senantiasa memperhatikan perkembangan pribadi tiap pribadi atau yang dikenal dengan  Cura Personalis. Melalui metode Cura Personalis ini diharapkan antara pihak sekolah dengan siswa akan saling mengenal secara mendalam. Adanya perbedaan yang ada di antara para siswa membawa kepada keharusan untuk memberikan perlakuan yang juga berbeda. Oleh karena itu pendampingan siswa sangat ditekankan dan diberi porsi lebih dalam pendidikan khas di Kolese Kanisius.

Dalam metode Cura Personalis, ada tuntutan bahwa si pengajar menjadi orang yang sungguh-sungguh mengetahui pengalaman hidup pelajar. Karena itu para pengajar selalu didorong dan ditantang untuk mengetahui sebanyak mungkin mengenai konteks sekarang ini, termasuk keadaan berlangsungnya kegiatan atau proses belajar mengajar. Sebagai pelajar, mereka juga perlu memahami dunia pelajar, termasuk gaya dan cara hidup keluarga para pelajar, gaya pergaulan teman-teman, kebudayaan dan adat kebiasaan kaum muda, dan juga tekanan sosial, kehidupan sekolah, situasi politik dan ekonomi, agama, media, seni, musik dan lain sebagainya, yang berdampak buruk maupun baik terhadap cara berpikir dan cara merasa serta cara hidup para pelajar. Memang, kadangkala kita harus bersama-sama dengan para pelajar berefleksi atas kenyataan-kenyataan kontekstual dunia kita maupun dunia mereka. Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan misalnya kekuasaan-kekuasaan atau daya-daya mana yang bekerja dalam diri mereka? Bagaimana daya-daya tersebut mempengaruhi sikap, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan mereka? Bagaimana daya tersebut membentuk tanggapan-tanggapan, penilaian-penilaian dan pilihan-pilihan kita? Bagaimana pengalaman-pengalaman dunia mempengaruhi cara para pelajar belajar, membentuk dan mencetak pola berpikir dan bertindak mereka ?

            Untuk menciptakan hubungan yang otentik dan terbuka antara pelajar dan pengajar dituntut sikap saling menghargai dan mempercayai. Penghargaan, rasa hormat, dan pelayanan harus terjalin tidak hanya antara pengajar dan pelajar akan tetapi juga di antara semua anggota komunitas sekolah. Idealnya sekolah-sekolah Yesuit merupakan tempat orang yang dipercayai, dihormati, dan diperhatikan;tempat bakat alamiah dan kemampuan kreatif diakui dan disanjung; tempat di mana sumbangan tiap-tiap orang dan keberhasilannya dihargai;tempat di mana setiap orang diperlakukan secara jujur dan adil;tempat pengorbanan demi yang miskin, yang terbuang, yang tidak dididik dan tidak mendapat pengajaran;tempat tiap-tiap orang dari antara kita ditantang, didorong, dan didukung untuk mencapai perkembangan pribadi yang purna. Idealnya sekolah Yesuit adalah tempat kita saling membantu dan bekerja sama dengan penuh semangat dan bermurah hati, guna berusaha menyatakan secara konkrit lewat kata dan kegiatan cita-cita yang kita tuntut kepada para pelajar dan para pengajar dan juga kita sendiri.[15]

            Apa yang menjadi tujuan dari sekolah Yesuit adalah untuk memungkinkan tumbuhnya pribadi-pribadi yang otentik, baik itu dalam diri pengajar, pelajar, atau semua anggota dalam lembaga pendidikan tersebut. Hal itulah yang menjadi ciri khas dari pendidikan dan pengajaran Yesuit. Jadi setidaknya hal itu juga menjadi prasyarat untuk setiap pengembangan menuju komitmen akan penghidupan nilai-nilai. Untuk dapat sampai pada hal ini, apa yang tetap perlu dilakukan adalah adanya pendekatan secara personal, atau cura personalis, sebab hal ini akan sangat efektif untuk membantu tercapainya tujuan-tujuan tersebut.          

 

REFLEKSI DIRI

Belajar dari pengalaman dan kesalahan yang seringkali dilakukan oleh beberapa siswa misalnya mereka seringkali lupa membawa tugas, handout, salah seragam, datang terlambat, ketinggalan barang-barang dan masih banyak jenis pelanggaran lainnya. Oleh karena itu melalui metode pedagogi Ignatian, para Kanisian dalam hidup kesehariannya selalu diajak untuk senantiasa membuat Preparasi-Aksi-Refleksi yang digunakan untuk mendukung hidupnya nilai-nilai Ignatian dalam hidup sehari-hari. Refleksi ini dibuat untuk melatih siswa lebih berdisiplin lagi dalam memenuhi tugas dan tanggungjawabnya. Setiap kegiatan hendaknya selalu diawali dengan adanya preparasi atau persiapan, misalnya siswa sungguh-sungguh teliti dalam mempersiapkan seluruh bahan pelajaran beserta kelengkapannya. Supaya persiapan matang maka setiap siswa diharapkan focus sehingga akan membawa seluruh perhatian pada pelaksanaan yang optimal. Kemudian setelah itu adanya aksi menjadi konsekuensi logis dari preparasi. Aksi dilakukan dengan hasrat dan kehendak untuk selalu memberikan yang terbaik. Tahap selanjutnya adalah refleksi dan evaluasi. Refleksi dan evaluasi ini hanya dapat dilakukan jika ada preparasi. Jika tanpa preparasi, tidak mungkin ada refleksi dan evaluasi. Refleksi sendiri muncul dari kata pencerminan. Hal yang dicerminkan adalah diri kita sendiri, bagaimana gerakan batin kita pada saat kita melakukan sesuatu pekerjaan, kita digerakkan untuk melakukan apa ? Semua tahapan itu yang diharapkan sungguh dihidupi oleh para Kanisian untuk menjadi manusia yang Magis serta menjadi Man for Others.

.

 

PENUGASAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

 

Untuk menjadi pribadi Ignatian yang handal maka sekolah mengajak para Kanisian untuk sungguh merasakan dan merefleksikan seluruh rangkaian metode pembelajaran yang ada di Kanisius. Beberapa tahapan kegiatan-kegiatan mulai dari kelas 7, 8 dan 9 adalah bervariasi dan penuh dengan pendidikan nilai. Oleh karena itu berikut merupakan  beberapa contoh tahapan-tahapan pelatihan dan penerapan nilai-nilai Ignatian dalam penugasan-penugasan yang dilakukan bagi para Kanisian.

 

MOSCA

Bagi para siswa baru SMP Kanisius pada awal masuk sudah harus memasuki “kawah” Kanisius untuk mengenal bagaimana menjadi pribadi Kanisian yang sejati melalui MOSCA. Dalam Mosca ini teman-teman OSIS berkolaborasi dengan pihak guru pendamping memberikan pembekalan kepada para siswa baru. Pembekalan yang diberikan sangatlah menarik dan menantang sesuai selera jiwa laki-laki Kanisian. Aktivitas yang penuh dengan tantangan dibutuhkan komitmen dan kedisplinan yang mengarah pada pemenuhan tanggungjawab masing-masing calon siswa baru supaya dapat mengikuti tahapan MOSCA ini dengan penuh keterbukaan hati dan budi. Dalam MOSCA diperkenalkan mengenai cara bertindak Kanisian. Cara bertindak dalam hal ini berkaitan dengan sikap yang hendaknya dihidupi oleh para Kanisian. Sikap seperti apa yang mesti di hidupi ? Sikap-sikap yang berisi pada pembentukan diri menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan juga emosional. Dalam MOSCA mulai diperkenalkan mengenai tata tertib SMP Kanisius. Tata tertib ini diharapkan menjadi rambu-rambu bagi para siswa, guru dan siapa saja yang menjadi Kanisian. Para siswa Kanisian juga diajak untuk bekerja keras dalam mengerjakan setiap tugas yang diberikan setiap harinya pada saat MOSCA. Pemberian tugas ini juga sebagai salah satu pintu awal untuk mengajari para siswa baru menyesuaikan dengan budaya kerja dan belajar yang ada di Kanisius. Melalui MOSCA para calon siswa baru diajak untuk terbuka terhadap tugas dan tanggungjawabnya sebagai Kanisian yang tidak lagi mudah tergantung pada Ibu, Bapak atau keluarga yang lain sehingga mengakibatkan  siswa tersebut membawa budaya kehidupan yang menghidupi nilai-nilai. Pada intinya melalui MOSCA ini diharapkan para calon siswa baru SMP Kanisius mulai belajar berefleksi, mengenal, mencintai dan mengikuti seluruh dinamika yang ada di sekolah SMP Kanisius.

 

 

COMPASSION WEEK 

Dalam UU Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”[16]

 

Melalui undang-undang tersebut jelas bahwa peran akhlak merupakan aspek yang penting dalam upaya untuk mendidik anak. Akhlak dari para murid akan menjadi modal utama untuk membentuk bangsa yang berkarakter. Itulah pentingnya pendidikkan bagi anak didik. Untuk mendukung terbentuknya karakter yang mampu peka terhadap lingkungan hidup sekitarnya dan keprihatinan social lainnya, maka Kolese Kanisius melatihkan kepada para siswa kegiatan Compassion Week.

Melalui kegiatan Compassion Week, diharapkan siswa-siswa kelas 7 SMP Kanisius mampu menangkap apa makna compassion dan bagaimana cara menghidupinya. Menjadi manusia yang pandai secara kognitif itu hampir semua orang mempunyai kemampuan kearah itu, akan tetapi menjadi cerdas secara emosional itu tidaklah mudah dicari dan ditemukan. Untuk menjadi Kanisian sejati tidaklah cukup hanya pandai secara akademik akan tetapi haruslah seimbang antara kemampuan secara akademik dengan kecerdasan emosionalnya. Mengasah hati dan budi menjadi satu kesatuan untuk melatih anak menjadi pribadi yang cerdas dalam banyak hal yang berguna bagi sesamanya. Kegiatan compassion week lebih ditujukan untuk melatih siswa mampu menangkap keprihatian-keprihatinan social dan lingkungan yang terjadi di sekitar kehidupan kita.

Dalam beberapa akhir ini kegiatan Compassion Week selalu dilangsungkan di Bantar Gebang Jakarta. Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa akan dapat melihat dan merasakan keprihatinan akan lingkungan hidup. Selain itu siswa juga diajak untuk berefleksi akan kehidupan social yang ada di Bantar Gebang. Para Kanisian juga diajari untuk terjun dalam bekerja dengan cara misalnya memilah-milah sampah. Hal yang menarik lainnya adalah ketika para Kanisian diajak makan ditengah situasi lingkungan yang sangat tidak enak, penuh bau sampah, penuh lalat dan situasi yang kurang bersih. Itulah kegiatan compassion week dan wajib diikuti siswa kelas 7. 

 

PRAMUKA

Untuk mendukung pembentukan karakter siswa yang berjiwa pemimpin. Sekolah menyediakan berbagai macam kegiatan yang diwajibkan kepada pada siswa. Hal ini misalnya melalui kegiatan Pramuka. Para Kanisian kelas 7 diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pramuka supaya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berani, mandiri dan disiplin. Melalui kegiatan camping pramuka yang dimaksudkan supaya para Kanisian akan lebih mengenal kekuatan dirinya dan alam. Dalam kegiatan camping pramuka ini memang dicarikan medan yang cukup menantang misalnya para siswa harus melewati jalur yang tidak mudah yakni salah satu pegunungan yang ada di Jawa Barat. Para Kanisian diwajibkan menempuh rute yang tidak mudah, hal ini  dimaksudkan  supaya para Kanisian semakin berani menghadapi segala tantangan, berani bekerja keras dan bersusah payah untuk menghidupi tugas-tugasnya. Medan yang lumayan sulit memang menimbulkan reaksi yang beragam, ada Kanisian yang sangat menikmati medan itu akan tetapi ada juga yang harus penuh dengan susah payah untuk mendaki. Semua memang harus ditempuh supaya masing-masing belajar juga untuk saling membantu satu sama lain jika ada temannya yang mengalami kesulitan. Kebersamaan dan kesatuan dalam kelompok sungguh diuji dalam camping ini. Para Kanisian juga dilatih untuk peka sebagai satu bagian dalam komunitas sehingga diharapkan melalui kerja kelompok ini, para Kanisian saling bisa saling belajar dan memberikan diri dengan sebaik-baiknya dalam pelayanan karena jiwa seorang pemimpin salah satunya adalah melayani.

 

 

LIVE - IN

Para Kanisian kelas 8 diwajibkan mengikuti kegiatan Live-In di desa-desa. Pada tahun 2014 ini kegiatan Live-In bertema “Think Globally Act Locally” yang diadakan di Baturetno Wonogiri Jawa Tengah. Tujuan dari Live In adalah supaya para Kanisian mempunyai pengalaman untuk hidup mandiri dengan bersentuhan langsung terhadap dunia real yang ada di pedesaan. Para Kanisian tinggal bersama keluarga-keluarga yang ada di desa supaya turut merasakan kehidupan harian mereka. Pada setiap hari para Kanisian diwajibkan untuk bekerja membantu orang tua asuh mereka masing-masing. Mereka ada yang membantu bekerja di sawah, menjual tempe, memecahkan batu-batu untuk bahan bangunan, ada yang memberi makanan ternak, dan masih banyak lagi tugas yang dikerjakan pada setiap harinya. Melalui Live In ini para Kanisian diharapkan mampu mengenali diri secara lebih baik lagi. Melalui pengenalan diri ini diharapkan sepulang dari Live-In, para Kanisian akan menjadi pribadi yang mandiri dan semakin bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya. Para Kanisian juga diajak berefleksi untuk mensyukuri seluruh anugerah yang sudah diterima melalui kehadiran keluarga.

 

RETRET

Bagi kelas 9, tahapan probasi yang terakhir adalah retret. Melalui retret ini diharapkan para Kanisian mampu secara jernih menentukan pilihan hidupnya ke depan. Para Kanisian juga diajak untuk melihat kembali pengalaman selama dua tahun kebelakang. Pengalaman syukur bersama keluarga, teman-teman dan saudara-saudari yang ada di sekolahan.  Melalui retret ini anak anak diharapkan mampu merefleksikan kecintaan dan kehadiran orang tua yang selama ini berperan besar bagi keberhasilan teman-teman semuanya.  Retret  ini juga bertujuan untuk sarana merenung dan mengolah diri supaya makin menjadi Kanisian yang dapat merasa dekat  bersama keluarga, teman dan khususnya Tuhan sendiri. Retret pada tahun ini mengambil tema “The Free Man in Christ” hal ini dimaksudkan bahwa kita sebagai manusia yang diberikan kebebasan dalam menentukan orientasi hidupnya dengan senantiasa berpegang dalam Kristus sendiri. Judulnya ini :

 

SARANA PENINGKATAN TALENTA SISWA

 

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan sarana yang dapat mendukung kearah mana para Kanisian akan di bentuk. Melalui jenis dan macam ekstra kurikuler yang ada di Kanisius diharapkan para Kanisian akan dapat mengembangkan hobby dan minatnya dalam mengembangkan diri dan talenta yang telah dimiliki. Kegiatan ekstrakurikuler ini adalah kegiatan wajib yang harus diikuti oleh para siswa.

Berikut merupakan macam kegiatan ekstra kurikuler yang ada di SMP Kanisius ;

1.          Bola Basket

2.          Sepak Bola

3.          Bola Voli

4.          Bulu-tangkis

5.          Tenis Meja

6.          Bela Diri

7.          Canichess (catur)

 

 

A.      NON OLAH RAGA:

1.          Drama : Apresiasi seni peran/ tokoh dan teater.

2.          Persevera : Kelompok paduan suara.

3.          Organis : Kelompok organis.

4.          Caniband: Kelompok penggemar band.

5.          CWE : Canisius Wind Ensamble/ Musik Tiup Kolese Kanisius.

6.          Caniart/ Canicart: Wadah pencinta seni rupa & lukis/ kartun manga (Jepang).

7.          Kiss-CC: Kreativitas Ilmiah Siswa-Siswa Canisius College, Kelompok Ilmiah (penggemar Sains).

8.          Canicomp (Animasi & Programming) : Kelompok penggemar Komputer.

9.          Pramuka Inti Gudep 005: Gerakan Pramuka Kolese Kanisius.

10.       Grup Ansamble Gitar

11.       Canicinema: Apresiasi dan pembuatan film pendek.

12.       String : Kelompok ansamble alat musik gesek.

 

 

POTRET SISI LAIN KANISIAN

 

Bila dilihat dari sudut pandang Latihan Rohani St. Ignasius, unsur khusus yang mencirikan paradigma Pedagogi Ignasian bukan hanya keterkaitan yang berkesinambungan antara pengalaman, refleksi, dan aksi dalam proses belajar-mengajar, tetapi juga pola ideal hubungan dinamis antara pengajar dan pelajar selama belajar bergulat untuk mengembangkan pengetahuan dan kebebasannya.[17]Dalam pengamatan yang dilakukan untuk melihat perkembangan anak memang diakui bahwa Kanisian masih juga memiliki kelemahan yang sangat klasik.

            Dari hasil refleksi pihak moderator, beberapa hal yang masih perlu diperbaiki oleh para Kanisian adalah berkaitan dengan ketelitian dan kedisiplinan dalam menjaga barang. Sering sekali kita masih melihat para Kanisian masih sering lupa terhadap barang-barang bawaannya sehingga yang terjadi adalah barang seringkali tertinggal di sekolahan. Misalnya saja tentang HP, Laptop, botol minuman, tempat makanan, seragam, pianika dan masih banyak lagi jenisnya.

Dalam hal ini, langkah yang dijalankan oleh pihak sekolah untuk mendidik anak supaya tidak mengulangi kesalahannya, pihak sekolah selalu meminta Kanisian untuk membuat refleksi atas kesalahannya. Refleksi ini dimaksudkan sebagai sarana pengembangan kesadaran anak akan tanggungjawabnya. Melalui refleksi diharapkan anak akanmelatih kepekaannya dalam menyikapi terhadap tugas dan kewajibannya. Kewajiban membuat refleksi ini juga diberlakukan bagi siswa yang tidak membawa tugas atau PR di sekolah. Oleh karena itu dalam pendampingan terhadap anak, supaya anak belajar disiplin maka sanksi selalu diberikan ketika anak melanggar aturan yang telah ditentukan bersama. Kegiatan berefleksi adalah kegiatan yang diharapkan sungguh akan melatih daya kritis anak terhadap tugas dan kewajibannya.

 

PRESTASI KANISIAN 

POR atau Pekan Olah Raga Kolese Kanisius menjadi event kebangaan tersendiri bagi seluruh civitas akademika Kanisius karena melalui POR ini kita bisa belajar banyak hal. Para Kanisian melalui POR belajar untuk berorganisasi yang secara khusus kepanitian ditangani oleh para OSIS. Selain OSIS, siswa-siswa Kanisian lainnya juga turut terlibat dalam seluruh kepanitian yang ada misalnya adanya Alaska (Aliansi Suporter Kanisius), seksi kebersihan, keamanan, basar, lomba, dan masih banyak lagi. Para Kanisian juga mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam bidang olah raga. Jiwa sportifitas, kejujuran, kerjasama, penghargaan selalu ditekankan dan dihidupi.

Dalam kompetisi perlombaan olah raga secara umum, pada tahun ini teman-teman Kanisian mempunyai banyak prestasi yang diperoleh. Sekolah mengirimkan perwakilan  Kanisian untuk bertanding. Tujuan mengikutsertakan perwakilan dalam kompetisi ini tidak hanya untuk meraih juara akan tetapi ada tujuan yang lebih besar dari itu semua yakni supaya Kanisian belajar menghidupi loyalitas terhadap almamater, belajar menghidupi jiwa sportifitas, siap untuk bersaing secara sehat, melatih kebersamaan dan kesatuan dalam kerjasama antar team.

Berikut merupakan prestasi yang diraih oleh para Kanisian sepanjang tahun 2013-2014 ;

Daftar Prestasi siswa tahun 2014-2015

       

 

Keterangan

bid. Kejuaraan

kategori

1

Juara III : Voli Putra POR CC XXV 17-24 Oktober 2014

Voli

Olahraga

2

Juara IV :Sepak Bola POR CC XXV 17-24 Oktober 2014

Sepak Bola

Olahraga

3

Juara I : lomba Band POR CC XXV 17-24 Oktober 2014

Band

seni

4

Juara 1 Futsal : di SMP Santa Maria

Futsal

Olahraga

5

Juara 3 Matematika: Di kejuraan Matematika Sanmar Cup tanggal 20-27 September 2014

Matematika

akademis

6

Juara 2 : Lomba Lukis di kejuaraan lukis pada even Canisius Education Fair diselenggarakan SMA Kolese Kanisius

Lukis

seni

7

Juara 1 Futsal : di Recis Cup diselenggarakan SMP Ragina Pacis Tanggal 1-4 Oktober 2014

Futsal

Olahraga

8

Juara 1 : lomba Komputer Sanmar Cup diselenggarakan SMP Santa Maria Juanda tanggal 20-27 September 2014

Komputer

sains

9

Juara 1 Lomba menggambar " pada event Galaxy Cup 22-27 Sept 2014

Menggambar

seni

10

Juara 3 Bola Basket Putra : di Recis Cup tanggal 1-4 Oktober 2014

Basket

Olahraga

11

Juara 2  Lomba menggambar pada Galaxy Cup di SMP asisi tanggal 22-27 September 2014

Menggambar

seni

12

Juara 3 Lomba Fotografi : POR CC XXV tanggal 17-24 Oktober 2014

Fotografi

seni

13

Juara 2 Lomba Fotografi : POR CC XXV tanggal 17-24 Oktober 2014

Tenis Meja

Olahraga

14

Juara 2 Lomba Tenis Meja : POR CC XXV tanggal 17-24 Oktober 2014

Tenis Meja

Olahraga

 

 

 

 

 

DAFTAR PRESTASI SISWA

 

TAHUN AJARAN 2013-2014

       

 

Keterangan

bid. Kejuaraan

kategori

1

Juara 1 : Basket Putra Kejuaraan POR CC XXIV  tanggal 19-26 Oktober 2013

Basket

nonakademis-Olah Raga

2

Juara 2 : Kejuaraan Basket di SMP Budi Mulia Tanggal 14-20 November 2013

Basket

nonakademis-Olah Raga

3

Juara MVP : Kejuaraan POR CC XXIV  tanggal 19-26 Oktober 2013

Basket

nonakademis-Olah Raga

4

Juara 3 : Kejuaraan Bulu Tangkis Putra POR CC XXIV tanggal 19-26 Oktober 2013

Bulu Tangkis

nonakademis-Olah Raga

5

Juara 1 : Kejuaraan Bulu Tangkis Putra dalam POR CC XXIV tanggal 19-26 Oktober 2013

Bulu Tangkis

nonakademis-Olah Raga

6

Juara 1 : Kejuaraan Bulu Tangkis Putra dalam Theresia Cup tanggal 1-3 November 2013

Bulu Tangkis

nonakademis-Olah Raga

7

Juara 2 : Bulu-tangkis dalam kejuaraan o2SN bulan April 2013

Bulu Tangkis

nonakademis-Olah Raga

8

Juara 2 Lomba Catur O2SN bulan April 2013

Catur

nonakademis-Olah Raga

9

Juara 1 : Kejuaraan Futsal di Bellarminus Cup 2013 Bulan November 2013

futsal

nonakademis-Olah Raga

10

Juara 3 : Futsal tingkat SMP di SMP Highscope School pada Bulan Maret 2013

Futsal

nonakademis-Olah Raga

11

Juara 2 : Kejuaraan Futsal tingkat SMP Di SMP Tarakanita V tanggal 29 Januari 2013

Futsal

nonakademis-Olah Raga

12

Juara Harapan 1 : Lomba matematika Kalkulator Tingkat Provinsi DKI tgl 23 November 2013

Matematika

Akademis

13

Juara Harapan 2 : Lomba Matematika Kalkulator Tingkat Provinsi DKI Tanggal 23 November 2013

Matematika

Akademis

14

Juara 2 : Lomba Renang gaya  kejuaraan O2SN tingkat SMP

Renang

nonakademis-Olah Raga

15

Juara 3 : Lomba  Design Poster di SMP Theresia Jakarta tanggal 1-3 november 2013

Seni- Design Poster

nonakademis-seni

16

Juara 2 : lomba Koor di SMA Gonzaga tanggal 22 Oktober 2013

Seni- Koor

nonakademis-seni

17

Juara 1 Lomba Lukis di Monumen Proklamasi  dlm rangka Peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nov 2013

Seni-Lukis

nonakademis-seni

18

Juara 3:  Lomba lukis di SMK BPK Penabur tanggal 30 Okt-9 Nov 2013

Seni-Lukis

nonakademis-seni

19

Juara 1 : Sepak Bola  dlm kejuaraan Pekan  Olah Raga Canisius College POR CC XXIV tanggal 19-26 Oktober 2013

sepak Bola

nonakademis-Olah Raga

20

Juara 2 : Kejuaraan Tenis Meja pada Pekan Olah Raga Canisius College XXIV tanggal 19-26 Oktober 2013

Tenis Meja

nonakademis-Olah Raga

21

Juara 3 : Lomba Tenis Meja pada Kejuaraan Pekan Olah Raga Canisius College XXiV tanggal 19-26 Oktober 2013

Tenis Meja

nonakademis-Olah Raga

22

Juara 3 : Lomba Voli Putra di kejuaraan Pekan Olah Raga Canisius College POC-CC XXIV tanggal 19-26 Oktober 2013

Voli

nonakademis-Olah Raga

23

Juara 3 : Lomba Voli Putra di kejuaraan Budi Mulia Cup Bulan Oktober 2013

Voli

nonakademis-Olah Raga

24

Juara 3 : Lomba Voli Putra di kejuaraan Santa Ursula Day Bulan Oktober 2013

Voli

nonakademis-Olah Raga

25

Juara 2 : Lomba Futsal tingkat SMP (TARLEXANDRIA)yang diselenggarakan SMP Tarakanita 1 tanggal  11-18 Januari 2014

sepak Bola

nonakademis-Olah Raga

26

Juara 1 : Lomba Basket antar siswa SMP dilaksanakan di SMP Labschool tanggal 16 Mei 2014

Basket

nonakademis-Olah Raga

27

Medali Perak: OSN (Olimpiade Sains Nasional) tahun 2014 bidang studi IPS

Sains

Akademis

28

Finalis OSN 2014 : Menjadi finalis Olimpiade Sain Nasional tahun 2014 Bidang Studi IPA

bahasa inggris

Akademis

29

Juara 1 : Lomba Pidato Bahasa Inggris di tingkat Kecamatan Menteng Tanggal 19 Mei 2014

bahasa inggris

Akademis

30

Juara 2 : Lomba Pidato Bahasa Inggris di tingkat Kota Administratif Jakarta Pusat. Tanggal 19 Mei 2014

bahasa inggris

Akademis

31

Juara 2 : Lomba Pidato Bahasa Inggris di tingkat Kecamatan Menteng  Jakarta Pusat. Tanggal 19 Mei 2014

bahasa inggris

Akademis

32

Juara 3: Lomba Pidato Bahasa Inggris di tingkat Kecamatan Menteng  Jakarta Pusat. Tanggal 19 Mei 2014

bahasa inggris

Akademis

33

Juara 3: Lomba Pidato Bahasa Inggris di tingkat Kota  Administrasi Jakarta Pusat. Tanggal 19 Mei 2014

bahasa inggris

Akademis

34

Juara 1 : lomba Basket Putra di SMP Labschool Jakarta tanggal  9-16 Mei 2014

Basket

olah raga/ non akademis

35

Juara 2 : Lomba Futsal tingkat SMP (TARLEXANDRIA)yang diselenggarakan SMP Tarakanita 1 tanggal  11-18 Januari 2014

futsal

olah raga/ non akademis

Itulah beberapa hal yang dapat moderator sampaikan dalam buku tahunan ini. Kanisian yang cukup beragam latar belakang karakternya menjadi keunikan tersendiri dalam berproses bersama untuk menghidupi nilai-nilai Ignatian.  Melalui dinamika yang ada di Kanisius dengan menjiwai dan menghidupi isi dari Mars Kolese Kanisius dan Janji Pelajar, maka seluruh Kanisian diharapkan mampu menjadi Man for Others yang berarti siap untuk mengakui potensi diri dan perbedaan dalam diri sahabat, teman dan sesamanya.

Perbedaan ini diharapkan untuk menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain. Harapannya, melalui kesadaran yang demikian diharapkan kelak juga kan membuahkan persaudaraan sejati, yaitu perasaan dan tingkah laku untuk saling mencintai, saling percaya, saling menghargai, saling menghormati, saling mendukung, dapat diandalkan, saling membantu dan senantiasa peka untuk mau menjalin kerjasama dengan siapa saja yang berkemauan baik.

Be Magis !jadilah Kanisian yang “ada” karena selalu konkrit hadir untuk mau belajar dan belajar dalam melatih, mewujudkan jiwa kepemimpinan Kanisian yang otentik dan berdaya juang dalam segala tantangandan peluang. Jadilah kebangaan bagi keluarga, agama, bangsa dan almamater tercinta Kanisius.


[1]                 Ivan Illich,Bebas dari Sekolah, Jakarta:Penerbit Obor dan Sinar Harapan,1982,hlm.11

[2]           Van Leyeld,Pendidikan Yang Membebaskan,Yogyakarta:Wisma Immanuel,hlm.8

[3]           Reginald,D.Archambault,Pendidikan Adalah Kebudayaan:Renungan Leo Tolstoy, Menggugat pendidikan,dalam buku Menggugat Pendidikan:Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, Yogyakarta,Pustaka Pelajar,1999,hlm.490

[4]           Huitt, W. Moral and Character Development dalam http://www.www.edpsycinteractive.org/mochr/mochr, diunduh tanggal 20 Nopember 2012, diunduh pukul 10.00 WIB

[5]           Yulianti, Hakikat Pendidikan (seharusnya) Membentuk Karakter, dalam http ://www.scribd.com/doc/4074014/Hakekat-Pendidikan-Seharusnya-Membentuk-Karakter, diunduh pada tanggal 21 Nopember 2012,pukul 09.00 WIB

[6]           Doni  Koesoema A., Pendidikan Karakter:Strategi Mendidik Anak di Zaman Global,Jakarta:Grasindo, 2010,hlm.134

[7]           DoniKoesoema A., Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta:Grasindo, 2010, hlm.195

[8]                 Sumber dari http://www.forcharacter.com/page12.html diunduh tanggal 17 November 2014, pukul 22.30 WIB

[9]           Komisi Internasional Kerasulan Pendidikan Jesuit ( International Commision on the Apostolate of Jesuit Education – ICAJE ) pada tahun 1996 mengeluarkan satu dokumen yang disebut dengan Pedagogi Ignasian” karena dimaksudkan tidak hanya untuk pendidikan formal di sekolah-sekolah, kolese-kolese, dan universitas-universitas Jesuit saja, tetapi juga supaya bisa membantu semua bentuk pelayanan pendidikan  yang sedikit atau banyak diilhami oleh pengalaman St. Ignatius yang terekam dalam Latihan-latihan Rohani, dalam Bagian IV Konsitusi Serikat Yesus, dan dalam Ratio Studiorum (ratio studiorum yaitu patokan pegangan pendidikan yang menjadi baku dalam sekolah-sekolah Jesuit). Pedagogi Ignasian diilhami oleh iman kepercayaan Kristiani. Akan tetapi mereka yang tidak seiman bisa menimba pengalaman-pengalaman yang berharga dari dokumen ini, sebab pedagogi yang diilhami oleh St. Ignatius ini berakar sangat mendalam dalam berbagai aspek kemanusiaan dan karenanya bersifat universal juga.

[10]          International Commision on the Apostolate of Jesuit Education – ICAJE , Ignatian Pedagogy:A Practical Approach, Vol. 10, Roma:The International  Center for Jesuit Education, 1996, No. 3, hlm.3

[11]          Ibid., No. 4, hlm.3

[12]          Ibid., No.11, hlm.5

[13]          Ibid., No.16, hlm.6

[14]          Ibid., No.17, hlm.6

[15]          Ibid.,No.37, hlm.13

[16]          Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,Yogyakarta:Media Wacana, 2003,hlm.12

[17]          Ibid., No.23, hlm.8