Sejarah Kolese

Kolese adalah lembaga pendidikan yang dimiliki dan dikelola oleh Jesuit (sebutan bagi para rohaniwan ordo Serikat Yesus atau SJ). Tujuan pendirian kolese adalah untuk mempersiapkan/mendidik para pemuda supaya memiliki kecakapan intelektual dan hidupnya akrab dengan Tuhan, dengan demikian siap menjadi pemimpin keagamaan dan masyarakat. 

Kolese pada awalnya didirikan oleh Santo Ignatius Loyola pada sekitar tahun 1500. Ignatius Loyola membangun kolese dengan tujuan yang telah disebutkan ketika situasi reformasi gereja. Loyola adalah salah satu tokoh kontra reformasi dan melakukan pembaharuan dengan tetap berpegang pada ajaran Katolik.

 

Jaman Santo Ignatius

Beberapa lama setelah lahirnya Serikat Yesus, Ignatius dan kawan-kawannya menghadapi masalah besar dalam mencari tenaga baru dewasa yang cakap, terdidik, dan terpanggil seperti mereka. Serikat muda ini diminta mengemban tugas-tugas yang semakin lama semakin berat. Satu-satunya jalan adalah mendirikan beberapa pusat pendidikan untuk kaum muda yang terpanggil untuk mengabdi seperti mereka. Pusat-pusat pendidikan ini begitu berhasil dan terkenal sehingga banyak orang tua ingin menitipkan anak-anak mereka ke dalam pusat pendidikan Jesuit yang kemudian disebut collegium atau kolese. Arti harfiah kolese adalah tempat belajar bersama atau sekolah berasrama (dalam bahasa Latin kata cum berarti ‘bersama’ sedangkan legere berarti ‘membaca’ atau ‘belajar’).

Kolese terkenal karena pendidikan humanisme dam alumni-alumninya. Pada masa itu sedang berkembang paham humanisme atau kemanusiaan. Humanisme memusatkan perhatian pada martabat manusia (dalam bahasa Latin kata “homo” berarti “manusia”). Satu gerakan            cabang humanisme memandang manusia sama sekali otonom dan karenanya harus mengembangkan segala potensinya tanpa mengindahkan iman dan agama bahkan menolak Tuhan. Sumber pendidikan humanisme adalah karya sastra dan budaya Yunani-Romawi yang jauh lebih bermutu daripada karya sastra budaya kontemporer yang terlalu dipengaruhi agama dan kitab suci.

Kolese mengembangkan humanisme religius, yaitu suatu humanisme yang di satu sisi mengakui otonomi dan potensi manusia dan di sisi lain mengakui bahwa martabat, otonomi, dan potensinya itu berakar pada hakekat manusia sebagai anak-anak Allah yang dicintai-Nya. Dengan demikian untuk perkembangan intelektual, kolese mampu menggunakan sumber pendidikan karya sastra dan budaya Yunani-Romawi secara optimal. Untuk perkembangan pribadi, kolese mampu menghargai usaha pengembangan potensi siswa dalam kebebasan dan kemandirian. Sedangkan untuk perkembangan iman, kolese mampu merajut pendidikan modern tersebut dalam religiositas yang mendalam. Pendidikan kolese begitu berhasil sehingga alumni-alumni tidak hanya menghayati humanisme, melainkan juga menjadi tokoh-tokoh pembela humanisme religius.

Akhirnya sampai pada tahun 1556 saat meninggalnya, Santo Ignatius telah merestui pendirian 40 kolese dan menyetujui karya pendidikan di kolese sebagai salah satu karya Serikat Yesus. Semboyan kolese pada tahun itu adalah “Mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia” (Educatio puerorum reformatio mundi). Sekolah mendidik humanis religius dan menumbuhkan mereka menjadi pendekar humanisme religius melawan humanisme atheis yang menyesatkan. 

 

Riwayat Singkat Kolese Kanisius dan Perkembangannya

 

1927

Kolese Kanisius berdiri; tepatnya pada tanggal 1 Juli 1927. Pada waktu itu dimulailah dengan kelas Satu AMS (Algemene Middlebare School, yaitu sekolah setingkat dengan SMA) dengan jumlah siswa sebanyak 20 dan 8 siswa dari mereka itu tinggal di Asrama Sekolah. Seluruh murid adalah laki-laki sebagaimana kolese perdana dahulu juga berciri homogen. Pater Dr. J. Kurris, SJ. adalah pemrakarsa pendirian kolese dan sekaligus menjadi Direktur yang pertama. AMS ini berlokasi di tanah Persil Menteng 40 dan 44 yang sekarang menjadi Jalan Menteng Raya 64-68. Tetapi pada mulanya keadaan AMS masih belum sempurna. Gedungnya sendiri baru selesai dibangun pada tanggal 1 Juli 1929, didirikan oleh Biro Arsitek Fermon-Cypers.

 

1930

Bulan Februari 1930, gedung Kolese Kanisius diberkati oleh Mgr. A Van Velsen, SJ.

 

1931

Tanggal 26 Oktober 1931, Pater A. Van Hoof, SJ. menjadi Rektor pertama Kolese Kanisius. Dalam periode ini pula Kolese Kanisius memiliki Prefect yang pertama yaitu Pater Dr. Nic. Perquin, SJ. Di tahun 1977, istilah Rektor diganti dengan Superior dan Prefect menjadi Pamong, yang kemudian diganti dengan sebutan Moderator hingga sekarang ini.

 

1938

RP Van Hoof, SJ digantikan oleh RP De Quay, SJ. Tugas RP De Quay cukup berat, yaitu membangun HBS. Pada tahun itu juga, dibangunlah gedung baru 2 tingkat beserta asrama yang berada di sayap kanan. Pembangunan gedung tersebut sempat tertunda karena adanya Perang Dunia II, serta pemindahtugasan RP De Quay, SJ. Selama perang, tidak ada kegiatan belajar-mengajar di Kanisius dan sekolah ini dijadikan Sekolah Menengah Tinggi Negeri.

 

1946 

Tepatnya  tanggal 1 Januari 1946, Kanisius kembali dibuka dan pembangunan HBS kembali dilanjutkan oleh RP Bastiaan, SJ.

 

1949

Tepatnya 1 Agustus 1949, kegiatan di Kanisius dapat kembali berjalan normal. Murid-murid Kanisius menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya, setelah adanya penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda.

 

1952

Kanisius merayakan peringatan 25 tahun Kolese. Mulai tahun ajaran 1952-1953, keadaan pendidikan di Kolese Kanisius sudah mulai terarah dan telah menemukan haluannya. Pada tahun 1952, Kolese Kanisius membuka SMP dan SMA, dan HBS mulai dihapus. Saat itu, direktur SMP dan SMA masih dijabat oleh satu orang yaitu  Pater Kreekelberg,SJ.

 

1964

1 Agustus 1964, P. Jeuken,SJ menjadi direktur SMP-SMA menggantikan Pater Krakeelberg,SJ. Beliau membawa perubahan yang cukup besar, diantaranya dengan pengembangan mata pelajaran menjadi 4 jurusan yaitu ilmu budaya, ilmu sosial, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan alam.

 

1967

Tahun 1967, untuk pertama kalinya Kolese Kanisius dipimpin oleh alumninya sendiri, yaitu Pater Prayitno,SJ. Kolese Kanisius juga merayakan perayaan ke-40 secara terbatas di kalangan alumni saja. Pada tahun ini juga, asrama sekolah ditiadakan dan diubah menjadi ruang kelas. Di segi pendidikan, terjadi perubahan kurikulum, yaitu jurusan berkurang menjadi 3, yaitu sastra budaya, ilmu pasti-alam, dan ilmu sosial-ekonomi.

 

1974

Tahun 1974, pimpinan SMP Kanisius diserahkan pada Pater Sewaka,SJ dari Pater Jeuken,SJ sehingga tidak ada lagi pimpinan merangkap jabatan SMP dan SMA.

 

1988

Kolese Kanisius meningkatkan prasarana pendidikan dengan membangun gedung olah-raga (lapangan basket, badminton), perpustakaan, ruang Kepala SMA dan SMP beserta ruang Tata-Usahanya di lantai dasar dan membangun Aula di lantai dua. Ruang ini semua dibangun di bekas Aula lama yang telah diruntuhkan sebelumnya.  Peresmian ruang-ruang ini dilaksanakan pada  1 Oktober 1988 oleh Pater A. Sewaka, SJ. selaku Superior Kolese.

 

1994

Perombakan gedung depan Kanisius (pastoran). Gedung yang tampil megah dengan arsitektur klasik peninggalan Belanda seperti halnya gedung joeang di pugar menjadi gedung baru yang berlantai lima terdiri atas bagian “basement”: tempat parkir mobil; lantai I: tempat parkir kendaraan guru, kantin; lantai II: ruang kelas dan toilet; lantai III: laboratorium kimia, fisika, biologi, dan komputer untuk SMA; lantai IV: ruang rapat kecil, ruang pertemuan besar, laboratorium bahasa dan toilet; lantai V: ruang alumni dan ruang rapat. pada 1 November 1994 gedung ini diresmikan oleh Pater C. Putranta SJ selaku Provinsial Serikat Yesus Indonesia.

 

“A leader is one who influences a specific group of people to move in a God-given direction"