MENANGGAPI TUNTUTAN JAMAN

Oleh: P. Eduard C. Ratu Dopo, SJ,. M. Ed. 

Konteks

Kolese Kanisius sebagai sebuah institusi pendidikan menengah telah hadir di jantung kota DKI Jakarta selama kurang lebih delapan dasawarsa. Sejak awal berdirinya pada 1 Juli 1927  Kolese Kanisius yang dikelola oleh para Yesuit Provinsi Indonesia ini mempunyai visi menjadikan Kolese Kanisius sebagai pusat keunggulan pelayanan pendidikan bagi para calon pemimpin yang beriman dan bersemangat melayani sesama.  Bersama dengan Kolese-Kolese Yesuit di berbagai belahan bumi lainnya lainnya yang memiliki ciri khas pendidikannya sendiri,  Kolese Kanisius mengupayakan agar seluruh proses pendidikan kaum muda diarahkan pada pencapaian 3 C yakni kompetensi akademis (competencia), kepekaan hatinurani (Conscientia) dan kepedulian terhadap sesama terlebih-lebih yang miskin dan menderita (Compassion). Harapan dari institusi ini adalah para siswa tidak saja menjadi pribadi-pribadi yang cerdas dan mampu memecahkan persoalan dunia yang dihadapinya tetapi juga pribadi yang berkarakter baik, pribadi yang sanggup mengambil keputusan berdasarkan suara hati yang jernih dan benar serta memiliki rasa peduli terhadap orang lain dan berhasrat kuat untuk mengupayakan kebaikan bersama.

Eksistensi jenjang pendidikan menengah pertama atau  SMP Kanisius dimulai pada tahun 1952 sederap dengan langkah pemberlakuan  sistem pendidikan Nasional Indonesia. SMP Kanisius merupakan sekolah homogen yakni remaja pria  (14 – 16 tahun) yang pada tahun 2014 ini berjumlah 475  siswa  tidak saja mendidik kaum muda yang beragama Kristen Katolik maupun Protestan tetapi ada juga yang beragama Islam, Hindu, dan Buddha. SMP Kanisius merupakan feeder school yang mana hampir seluruh tamatannya melanjutkan ke SMA Kanisius yang berada dalam satu kesatuan unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Budi Siswa. Sebagai feeder school, SMP Kanisius diharapkan mempersiapkan dasar yang kokoh bagi pendidikan selanjutnya di SMA Kanisius. Dengan sistem pendidikan yang berkesinambungan selama 6 tahun para siswa tamatan Kolese Kanisius memiliki profile alumni yang sesuai dengan visi dan misi pendidikan di lembaga pendidikan Yesuit ini.

 

Tuntutan Perubahan dan Inovasi

SMP Kolese Kanisius sebagai sebuah lembaga pendidikan Jesuit menyadari sungguh akan tuntutan perubahan (changes) seiring dengan gerak perubahan dunia dewasa ini akibat pesatnya tekhnologi komunikasi. Tuntutan perubahan ini semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa di Indonesia khususnya di Jakarta  muncul fenomena menjamurnya institusi-intitusi pendidikan dasar dan menengah yang masing-masingnya menjanjikan untuk menjadikan diri sebagai pusat-pusat keunggulan dengan motif dan orientasi nilai yang berbeda-beda.  Banyak orang tua mulai berpaling dari sekolah-sekolah tradisonal dan mengarahkan perhatian mereka pada sekolah-sekolah berlabel Nasional Plus atau Internasional. Ada pesan tersirat dari fenomena ini adalah bahwa sekolah-sekolah tradisional perlu segera berbenah diri. Mendiang Pater Pedro Arrupe,SJ  selaku pimpinan tertinggi SJ  pada tahun 1980 mengingatkan,

“I caution.... about the danger of inertia. It is absolutely essential that we become more aware of the changes that have taken place in the Church and in the Society and aware also of our need to keep paces of these changes. That Jesuit community which believes that its school has no need to change has set the stage for the slow death of that school. It will only take about one generation. However painfull it may be. We need to trim the tree in order to restore it to strength. Permanent formation, adaptation of structures in order to meet new conditions these are indispensable (P. Arrupe,SJ, 1980).”

 

Menyadari akan adanya tuntutan perubahan tersebut di atas SMP Kolese Kanisius sambil tetap setia pada visi dan misinya baik sebagai sekolah Katolik maupun sebagai sekolah Yesuit berupaya mencari terobosan-terobosan serta inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan performancenya  sesuai dengan tuntutan kebutuhan jaman.  Namun demikian apapun perubahan hal-hal esensial yang tetap harus dipertahankan adalah bahwa sekolah harus dikembangkan sebagai komunitas dan pusat pembelajaran yang berorientasi pada penanaman dan interiorisasi nilai-nilai dalam terang iman Kristiani (bdk.,GE art. 8). Selain berorientasi pada pendidikan nilai, sekolah juga harus berdimensi global dan lokal. Sekolah menekankan proses pembentukan terus menerus seumur hidup (ongoing formation).

 

Langkah-Langkah Strategis

Beberapa hal pokok dan strategis yang sungguh menjadi perhatian dalam program pelaksanan baik jangka menengah dan jangka panjang yang yakni (1) Memperkuat perhatian secara personal kepada para siswa (cura personalis) selaku subyek utama pendidikan dalam jalinan komunikatif pedagogis dengan orang tua siswa; (2) pengembangan sekolah sebagai komunitas pembelajaran;  (3) pengembangan Kurikulum pendidikan yang ada  secara sistemik dan operasional didasarkan pada paradigma pedagogi Ignasian dan tiga arah programatik SJ Provinsi Indonesia (kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup dan fundamentalisme agama) dengan menekankan integrasi antara pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta; (4) peningkatan kualitas sumber daya pengampu pendidikan dalam hal ini para guru dan staf non pendidikan melalui program inservice training dan capacity building serta pendalaman spiritualitas Ignasian ; (5) restrukturisasi dan revitalisasi organisasi sekolah agar fungsi-fungsi tugas berjalan secara operasional, efektif dan efisien; (6) merenovasi dan melengkapi  sarana prasarana pendidikan yang memungkinkan tercipatanya iklim pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna serta  IT (Information Technology) yang menunjang  E-School Management System.

L:\yearbook2014\IMG_0692.JPG

 

  1. Perhatian Terhadap Siswa Secara Personal: Cura Personalis

Ditinjau dari profile siswa yang masuk ke sekolah ini kebanyakan mereka berasal dari keluarga kelas menengah ke atas.  Dari latar belakang seperti ini hampir dipastikan para siswa memiliki berbagai fasilitas yang tentunya mendukung kegiatan pembelajaran di rumah. Namun adanya fasilitas-fasilitas itu juga dapat menghambat kemajuan pendidikan mereka jika di keluarga masing-masing tidak mempunyai cukup disiplin misalnya penggunaan komputer dan internet di mana para siswa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk bermain games online ataupun offline dan sejenisnya atau ngobrol lewat FB, Twitter dan sarana komunikasi internet lainnya. Pihak sekolah tertantang untuk membina karakter para siswa agar menjadi semakin kritis dan tertib terhadap dampak negatif dari tekhnologi komunikasi yang maju dengan pesat dewasa ini. Untuk itu dalam kesempatan open campus diselenggarakan seminar yang menyangkut persoalan dalam dunia maya seperti mengantisipasi kejahatan dunia maya (cyber crime) ataupun kecanduan games online yang menyita waktu belajar dan interaksi sosial anak-anak sebagaimana yang disebut di atas.

Terpenuhinya fasilitas di keluarga masing-masing membuat para siswa cenderung dimanjakan. Oleh karena itu pembinaan karakter yang ulet dan tahan uji (perseverantia) sangat mendapat perhatian mengingat misi visi sekolah ini adalah menyiapkan para siswa menjadi kader-kader pemimpin yang bersemangat pelayanan cerdas berkharakter. Latar belakang keluarga yang serba berkecukupan diharapkan tidak menjadi rintangan bagi para siswa untuk memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap sesama mereka yang miskin dan menderita. Untuk itu pihak sekolah tertantang untuk terus menerus merancang dan mengarahkan program-program pembinaan yang memungkinkan terbentuknya karakter yang peduli terhadap sesama yakni:  

  • Memanfaatkan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler sebagai wahana pembentukan karakter secara  terencana dan terarah.
  • Merancang  kurikulum fleksiblel  lewat proyek-proyek kegiatan intensif  yang memungkinkan terjadinya perpaduan secara integral antara kegiatan intelektual (reserach), penanaman nilai dan sikap, serta ketrampilan hidup.  Kegiatan ini meliputi kegiatan Pekan Compassion yang melibatkan para siswa kelas 7. Pekan Live in untuk kelas 8 serta Retret untuk kelas 9.
  • Menyelenggarakan program Kaderisasi  kepemimpinan atau Leadership training.  Secara internal kegiatan kaderisasi kepemimpinan secara intensif melalui Presidium dan Legioner dan secara umum melalui kepengurusan kelas, kelompok minat dalam ekstrakurikuler  serta kegiatan periodikal seperti Pekan Olah Raga CC yang  penyelenggaraannya melibatkan seluruh siswa.
  • Menjalin Jejaring (network) dengan sekolah setingkat.
  • Terlibat dalam kegiatan yang  berisi program pembinaan krakter  seperti Pramuka  dan kompetisi-kompetisi baik olahraga, seni maupun ilmiah (Olimpiade Matematika, Sains maupun IPS).
  • Kegiatan-kegiatan ilmiah yang terarah pada pemecahan persoalan (problem solving): research paper dan Exhibitions of learning Experience yang telah berjalan selama 3 tahun ini.
  • Penguatan peranan Moderator yang sangat strategis bagi pembinaan karakter siswa lewat koordinasi untukmengaktifkan fungsi-fungsi Wali kelas, pengurus kelas, Bimbingan dan Konseling agar perhatian secara personal dalam pembinaan watak siswa dapat sungguh-sungguh terjadi.

H:\IMG_0052.JPG 

 2. Pengembangan sekolah sebagai Komunitas dan Pusat Pembelajaran

Sebagai komunitas pembelajaran, di sekolah dimungkinkan adanya jalinan komunikatif pedagogis antar pendidik dan peserta didik, antara peserta didik sendiri, antara pendidik dan orang tua siswa. Kegiatan pendidikan menempatkan peran perolehan dan pembentukan pengalaman belajar yang syarat makna dan menggembirakan bagi peserta didik sebagai pusat kegiatan reflektif yang mendorong berkembangnya kreatifitas para peserta didik. Para pendidik diharapkan mampu mengangkat peluang terbukanya kesadaran untuk memprioritaskan nilai-nilai kehidupan: kasih, pelayanan, kerja keras, kedisiplinan, kegembiraan, kejujuran, sikap kritis, persaudaraan dan kepedulian. Untuk itu sebagaimana telah disinggung sebelumnya perhatian terhadap masing-masing pribadi menjadi sangat penting. Oleh karenanya pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara masal. Dalam rangka perhatian terhadap pribadi-pribadi itu, pendidikan mendorong sikap reflektif dan inovatif yang sangat diperlukan untuk pengembangan kreatifitas dan kepedulian para siswa (bdk. Congregation for Catholic Education. 1988: no;51-65). Para guru dan keluarga (orang tua siswa) mesti bekerja sama memberikan dorongan yang memadai agar para peserta didik bisa mengembangkan kemampuan nalar yang lebih kreatif, komprehensif, dan integratif.

 

3. Merancang Kurikulum Formal dan Fleksibel Berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian  dan Tiga Arah Programatik SJ Provinsi Indonesia

Untuk mencapai cita-citanya sebagaimana telah diutarakan sebelumnya lembaga pendidikan ini tengah berupaya menerapkan pedagoginya sesuai Paradigma Pedagogi Ignasian yang menekankan kegiatan refleksi atas pengalaman dan aksi dalam seluruh proses pembelajaran.  Model pedagogi ini menekankan pengenalan akan konteks siswa, pelibatan siswa secara aktif dalam pengalaman belajar baik secara langsung lewat immersion program atau live in maupun tak langsung dengan menggunakan sarana-sarana multimedia.  Kegiatan refleksi untuk menemukan makna dan nilai dari seluruh pengalaman belajar  yang diperoleh bagi kehidupan  dilanjutkan dengan  aksi nyata sebagai aplikasi dari pengetahuan yang telah diperoleh serta nilai-nilai yang diyakini untuk akhirnya semuanya dievaluasi demi pengembangan ke arah yang semakin baik.  

Namun demikian sebaik dan seluhur apapun sebuah gagasan tetapi kalau tidak ditindaklanjuti secara operasional sedemikian rupa sehingga  terjelma dalam kenyataan praktis dan proses pedagogis gagasan indah  itu akan kehilangan maknanya dan hanya menjadi retorika indah tapi sama sekali tidak terejawantah dalam praksis. Oleh karena itu dengan memanfaatkan peluang yang diberikan oleh pemerintah agar setiap unit pendidikan mengembangkan kurikulumnya sendiri secara kreatif  atau yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  dalam dua tiga tahun terakhir ini SMP Kanisius bersama dengan SMA Kanisius menggarap KTSP berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian (PPI) dan terfokus  pada tiga arah programatik Provinsi Serikat Jesus Indonesia yakni  keprihatinan kepada persoalan kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, dan fundamentalisme agama yang bertendensi pada sikap intoleransi.  Beberapa hal konkret yang dilakukan:

  • Pengembangan Kurikulum. Merancang kembali Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan silbus yang berlaku (kurikulum 2013) serta RPP dengan  Format khusus  berbasis Paradigma Pedagogi Ignasian yang  sunguh dapat dipraktekan secara operasional dan sistemik.
  • Perumusan Nilai-nilai prioritas. Merumuskan kembali nilai-nilai pokok  dan nilai-nilai prioritas (priority values) untuk setiap jenjang untuk ditanam dan ditumbuhkembangkan dalam diri para siswa dalam rangka pembinaan karakter.

H:\IMG_0034.JPGH:\IMG_0024.JPGH:\IMG_0038.JPGH:\IMG_0031.JPG

  • Merancang Kurikulum Fleksibel. Kurikulum fleksiblel merupakan kegiatan pembelajaran  di luar kelas maupun lingkungan sekolah yang dirancang secara khusus  lewat proyek-proyek kegiatan intensif  yang memungkinkan  integrasi  antara pengembangan dan penajaman intelektual dan pembentukan karakter serta ketrampilan hidup dengan memperhatikan tiga  arah programatik Serikat Yesus Indonesia yakni persoalan kemiskinan, pemeliharaan lingkungan hidup dan pembinaan sikap toleransi. Berbagai kegiatan yang dirancang yakni Live in dan community service seperti kegiatan Peduli Monas yakni membersihkan sampah dalam wilayah Monumen Nasional; pekan Compassion berupa kegiatan exposure di daerah kumuh tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, bantaran kali  Ciliwung dan reboisasi hutan bakau pinggiran pantai pulau Rambut yang terkena polusi, field trip rekreatif ke Kebun Raya Bogor, Taman Safari, TMII, Pusat Riset dan Tekhnologi, Pusat Pabbrik Motor Yamaha, berbagai Museum sejarah dan ilmu pengetahuan  dengan tuntunan LKS (Lembar Kerja Siswa), Tuntunan refleksi  beserta rubrik penilaiannya.
  • Pembiasaan REFLEKSI dan Journaling. Kebiasaan melakukan refleksi secara tertulis atas setiap kegiatan yang dilakukan untuk menemukan makna dan nilai  bagi kehidupan.
  • Mendorong dan meningkatkan keunggulan akademis  (academic excellence) dalam diri para siswa  melalui  kebiasaan membaca, membuat  research paper dan exhibition of learning experience atau presentasi hasil penelitian ilmiah sederhana di hadapan komunitas sekolah dan orang tua.
  • Menumbuhkembangkan sikap religius melalui kegiatan-kegiatan selain refleksi, pemeriksaan batin (examen conscientiae), misa sekolah, retret angkatan.

 

4. Peningkatan Kualitas Personal dan Profesionalitas Guru

a.  Pembekalan spiritualitas Ignasian

Para Guru yang pada umumnya adalah awam dalam kerjasama dengan Yesuit untuk mengemban karya kerasulan di bidang pendidikan sangat perlu dilakukan secara berkesinambungan pendalaman rohani secara personal maupun komunal. Para Guru dibekali dengan pengalaman Latihan Rohani secara Ignasian yang memungkinkan mereka menangkap esensi dari Paradigma Pedagogi Ignasian yang melandasi praksis pendidikan di Kolese ini. Retret guru secara Ignasian: telah dilaksanakan pada tahun lalu (September sd. Oktober 2013). Pada tanggal 20 sd. 23 Agustus 2014 retret Ignasian untuk seluruh guru dan karyawan Kolese dilakukan secara serempak tersebar di berbagai Rumah Retret di Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Lewat proses pengolahan pribadi secara berkesinambungan para guru dilatih untuk melakukan refleksi dan menemukan makna dan nilai-nilai bagi kehidupannya serta masuk ke kedalaman hidup rohani. Dengan demikian para Guru tidak hanya sekedar mengenal secara kognitip apa esensi dan makna dari proses pedagogi Ignasian tetapi juga mengalaminya secara batiniah dan akhirnya berhasrat  untuk  mempraktekannya dalam praksis pendidikan mereka..

b. Peningkatan kompetensi para guru

Peningkatan kompetensi para guru dilakukan dengan pelibatan guru dalam pengembangan kurikulum yang berbasis Pedagogi Ignasian. Mulai dari mencermati isi materi kurikulum dan silabus resmi dari pihak pemerintah yang akhir-akhir ini dikenal dengan Kurikulum 2013 sampai pada penyusunan konkret silabus yang berbasiskan Pedagogi Ignasian. Kurikulum merupakan hasil dari pergulatan para guru di lapangan untuk mencari format yang tepat sesuai dengan konteks yang nyata sehingga rancangan yang tertulis dapat sungguh dilaksanakan dan dievaluasi terus menerus demi peningkatan kualitas. Bergerak searah dengan arahan pemerintah Republik Indonesia dan arah programatik SJ Provinsi Indonesia, Kurikulum ditujukan dengan sasaran pembentukan sikap (karakter), pengetahuan, dan ketrampilan. Beberapa upaya untuk menunjang tujuan tersebut yakni:

  • Pelatihan peningkatan performance pengajaran  lewat pelatihan pendayagunaan internet dan multimedia serta hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas belajar yang partisipatif, interaktif, dan reflektif lewat kegiatan yang diselenggarakan di dalam sekolah maupun lewat kegiatan studi banding ke dalam dan luar negeri.

C:\Users\Edi\Documents\dokumen 2014\year book 2014\rancang kurikulum\IMG_8705.JPG

  1. Peningkatan kemampuan guru dan staff dalam bahasa Inggris sebagai suatu tuntutan dalam rangka penguasaan Iptek dan kemampuan berkomunikasi dalam jejaring kerjasama  internasional.
  2. Pengembangan team teaching yakni Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang serumpun baik secara internal maupun dalam kerjasama eksternal dengan dinas Dikbud rayon Menteng.
  3. Pengikutsertaan guru dalam berbagai workshop, seminar dan konferensi pendidikan yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah, MPK,  ASJI (Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia)  dan JECAP baik di dalam maupun di luar negeri.
  4. Promosi guru untuk studi lanjut ke tingkat S-2.
  5. D:\yearbook2014\Foto pak Tri .jpg
  6.  

 

c. Perhatian Terhadap Kesejahteraan Para Guru

Para guru menjadi tulang punggung dalam seluruh kegiatan pelayanan pendidikan. Perhatian terhadap kesejahteraan mereka tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu selain program umum menyangkut kesejahteraan guru yang telah dicanangkan oleh pihak Yayasan Budi Siswa dalam level Unit SMP juga diusahakan kegiatan fundraising yang dikenal dengan dengan Dana Penunjang Pendidikan (DPP). Dana ini ditujukan untuk menunjang dan memudahkan putera dan putri para guru pada tahun-tahun awal melanjutkan sekolah atau studi mereka. Selain kegiatan fundraising atau penggalangan dana pendidikan juga diselenggarakan kegiatan kunjungan bersama ke keluarga para guru. Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan juga untuk mengenal lebih dekat dan personal konteks kehidupan keluarga amsing-masing guru.

Mendukung kegiatan yang telah berjalan selama ini yakni Koperasi Simpan Pinjam ASRI untuk guru dan karyawan SMP Kanisius dan KGK Setia Mitra Makmur yakni Keluarga Guru dan Karyawan SMP dan SMA Kolese Kanisius. KGK ini mempunyai arah dasar yang dituangkan dalam tiga dimensi yakni dimensi kebersamaan, dimensi kesejahteraan dan dimensi aspirasi. Dimensi kebersamaan: menjaga nilai-nilai dan semangat kebersamaan seluruh guru dan karyawan Kolese Kanisius sehingga mereka semakin terdorong memnunjukan kinerja yang baik dalam pelayanan mereka di sekolah. Dimensi kesejahteraan: KGK menjadi wadah yang memfasilitasi anggota untuk mengatasi masalah keuangan anggota sekalipun dalam bentuk yang terbatas dan bersifat jangka pendek. Dimensi aspirasi: KGK menjadi jembatan untuk guru-karyawan dengan pihak Yayasan Budi Siswa terkait dengan kebijakan-kebijakan yang memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhaap mereka dan keluarganya.

 

 

5. Restrukturisasi dan Revitalisasi Organisasi

  • Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan pendidikan SMP Kanisius melakukan restrukturisasi organisasi. Selain Wakasek Kurikulum dan Kesiswaan, diangkatlah seorang wakil yang menangani kesekertariatan, humas, personalia, serta sarana dan prasarana
  • Berkaitan dengan kebutuhan menerapakan E-School Management System dan system pembelajaran yang akan banyak mengandalkan multimedia maka diperlukan seorang staff yang secara khusus menangani IT.
  • Demi peningkatan produk dan pelaksanaan kurikulum maka untuk memperkuat Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum perlu difungsikan dan diberdayakan sebuah Tim Kurikulum yang dimasukan sebagai  fungsional struktural dalam departemen-departemen kurikulum yang terdiri dari Departemen Sosial, Departemen Eksakta, dan Departemen Bahasa, Departemen Seni dan Olahraga.
  • Pembentukan  tim LITBANG (penelitian dan pengembangan) yang bersama dengan para ketua  departemen dapat membantu kepala sekolah dalam melakukan analisis dan penelitian menyangkut pengembangan kurikulum dan pembelajaran atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sampai pada analisis hasil belajar  untuk perbaikan dan peningkatan kualitas.

 

6. Pengembangan Fasilitas Pendidikan: E-School Management System

  • Optimalisasi penggunaan website interaktif  dan Electronic organization (EON) yang memungkinkan para guru, siswa, orang tua siswa dan seluruh komponen pendidikan untuk bisa mendapat akses terhadap proses pendidikan SMP Kanisius secara efektif dan efisien.
  • Untuk mendapatkan akses informasi secara merata pula maka di zona-zona sekolah khususnya di lingkup SMP Kanisius yang banyak dilewati orang dipasang monitor untuk penayangan berbagai informasi sekolah yang penting.
  • Melengkapi fasilitas di kelas-kelas di samping whiteboard  juga sarana interactive board yakni semacam layar monitor yang dioperasikan secara digital lengkap dengan akses internet.
  • Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan jurnalistik dipasang Clipboard  untuk Koran Dinding di depan kelas. Selain itu juga di sekeliling tembok ruang-ruang klas yang memungkinkan para siswa dapat menempel atau mendisplay  Koran dinding sebagai hasil/bukti pembelajaran atau gambar-gambar yang mendukung suasana belajar.
  • Pembenahan ruang sekretariat dan kepala sekolah agar pelayanan lebih efektif dan efisien.

H:\R. BK\IMG_1088.JPG H:\R. BK\IMG_1073.JPG H:\R. BK\IMG_1085.JPG H:\R. BK\IMG_1074.JPG

 

  • Ruang Bimbingan dan Konseling, Ruang Guru dan karyawan yang kondusif bagi peningkatan pelayanan kepada para siswa.
  • Sarana locker room bagi para siswa dalam rangka mendukung program moving class yang sudah berjalan dalam dau tahun terakhir ini.
  • H:\SPANDUK\IMG_7605.JPG    H:\Selasar\IMG_7378.JPG    H:\SPANDUK\IMG_7627.JPG    H:\SPANDUK\IMG_7638.JPG    H:\SPANDUK\IMG_7649.JPG
  • Sarana Audiovisual yang memungkinkan pembaca untuk menonton film dokumenter.
  • Renovasi Laboratorium Biologi dan melengkapinya dengan fasilitas laboratorium biologi modern.\
  • Menciptakan lingkungan sekolah yang  bersih,  interaktif dan komunikatif , serta dihiasi oleh tanaman hijau yang menyejukan dan asri. Toilet yang bersih, higienis dan asri.
  • Karena institusi pendidikan Kolese Kanisius adalah values oriented school maka visualisasi nilai-nilai prioritas yang hendak ditanamkan dalam diri para siswa lewat poster yang ditempelkan di sayap-sayap tembok aula lantai dua dan juga motto 3 C di tembok sporthall (Perseverantia in Competentia, Conscientia et Compassione) serta icon Santu Petrus Canisius dan Santo Ignatius Loyola yang menunjukan identitas Kolese Kanisius sebagai sekolah Yesuit.

H:\IMG_0056.JPG    H:\IMG_0050.JPG

7. Agenda yang belum terlaksana

  • Renovasi Lapangan basket dan Volley  outdoor
  • Renovasi Laboratorium bahasa dan Ruang Musik sebagai salah satu wahana pendidikan humaniora.
  • Renovasi Laboratorium Fisika dengan dilengkapi sarana-sarana lab yang dapat menimbulkan minat dan hasrat siswa di bidang ilmu pengetahuan alam.
  • Bekerja sama dengan Kepala Sekolah SMA agar merenovasi perpustakaan sekolah sebagai center of excellence yang sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Perpaduan antara perpustakaan tradisioanl dengan e-library. Modifikasi perpustakaan dengan sistim terbuka yang memungkinkan ruangan lebih luas dan nyaman untuk membaca.  Selain disediakan buku-buku hardcopy yang menarik minat baca juga diintrodusir sistem e-library.
  • Penyediaan fasilitas kantin yang higienis dan nyaman di wilayah SMP serta interactive and artistic zone  di koridor antara sporthall dan ruang prakarya SMP yang sekaligus sebagai ruang multifungsi: cafetaria, kegiatan diskusi kelompok dan rekreasi.
  • Ruang istirahat bagi para guru SMP
  • Demi alasan keamanan maka perlu dipasang pula CCTV di titik-titik yang rawan keamanan

 

 Penutup

Demikianlah beberapa gagasan yang dapat disampaikan dalam rangka mengembangkan SMP Kanisius agar semakin tumbuh dan berkembang sesuai dengan visi dan misinya. Dari gagasan-gagasan pengembangan tersebut ada yang sudah terlaksana dan beberapa program masih dalam proses penyelesaian. Kiranya pada tahun-tahun selanjutnya agenda-agenda yang belum terlaksana dapat terealisasikan dengan baik. Ad Maiorem Dei Gloriam!